Dan kesunyian tidak lagi menjadi sesuatu yang menyedihkan ketika ia justru mendekatkanku pada-Mu.. *Adzimattinur Siregar
Gw jadi membayangkan pengadilan Allah nanti.
Katakanlah, di antara 10 juta manusia di muka bumi ini yang kenal sama gw dari bayi sampai mati (lebay juga ga papa), 5 jutanya benci dengan gw.
Mereka akan menghujat dan menuntut pada Allah supaya gw dijebloskan ke Neraka. Biasanya orang-orang yang mengamati gw di masa proses pendewasaan: penuh aib, penuh dosa, menjijikkan dan munafik.
Tapi di antara sekian juta, katakanlah ada satu dua orang yang akan menangis membela gw. Mungkin nyokap yang gw coba baktikan hidup ini sebisa mungkin. Mungkin satu dua yang pernah gw bantu. Pelacur aja ada yang masuk surga karena ngasih makan anjing. Atau… Jangan-jangan gw lebih rendah dari pelacur, sampai-sampai ga ada pengampunan?
Ah, seru banget ga sih membayangkan kira-kira pengadilan Allah akan seperti apa nanti?
Yang gw tau, itu terjadi nanti. Ketika Hari Perhitungan. Nggak sekarang, ketika di dunia. Masih ada kesempatan, meski ga seberapa, untuk menjadikan sisa sekian juta orang tersentuh dengan kebaikan atau pertolongan seadanya yang mampu gw sodorkan. Supaya mereka nanti belain gw di Pengadilan nanti.
Masih ada kesempatan. Allah kan Maha Sabar, takkan mengadili sampai Hari Perhitungan. Masih kasih kesempatan buat yang terbusuk sekali pun untuk menjadi lebih baik dulu. Tidak seperti makhluknya yang tak sabaran ini, suka mengadili orang semena-mena.
Resmi diabetes. Harus disuntik insulin 2x setiap hari. Wow. Jadi begini rasanya ya. Cukup aneh. Seperti punya mainan baru: alatnya lucu seperti pulpen. :)
Makan pun jadi semakin bingung, harus makan apa. Semoga dengan ini jadi kurus. Hehe.
Enjoy life selagi bisa ah.
Gw pengen hidup baru lebih dari apapun di dunia ini. Dengan identitas baru, masa lalu bersih, tanpa dosa dan pilihan yang salah, tanpa dikejar rasa bersalah dan tanpa siapapun dari masa lalu kecuali Nyokap. Hidup yang berbeda, jauhhhhhh dari apapun yang ada di dunia lalu.
Tapi ga bisa. Waktu gw kerja di Hong Kong aja, kaki masih terikat sebelah di sini. Skrg apapun yg gw perbuat atau tulis atau pikirkan, ga ada artinya. Seperti guling-gulingan di atas kotoran abadi. Selamanya nempel, selamanya dilempari batu sama orang-orang yang benci. Selamanya nista dan menjijikkan.
Jangankan kenangan bersih dari masa lalu, dosa-dosa jaman dulu yang gw pikir cuma Allah yang berhak tahu dan nilai, bahkan masih mengejar memburu.
Dulu gw pernah baca, manusia itu cantik karena Allah melindungi aib hidupnya dari manusia yang lain. Itu yang gw percaya. ALLAH TAU. GW TAU. Gak perlu diingetin terus, iya, gw tau, gw bakal masuk neraka. Ga bolehkah gw ambil secuil kesempatan dalam hidup untuk jadi lebih baik dan menyebarkan tulisan bahwa yang gw lakukan DULU itu SALAH supaya JANGAN kayak gw?
It is so easy to judge people. Too damn easy to judge dirty people like me.
Kalau masalah sudah terlalu banyak, manusia di bumi gak ada yang menyayangi lo, dan seisi dunia seakan berkonspirasi untuk menjadikan hidup lo seperti neraka, jawabannya gampang: udah, mati aja. Buruan. Say “Screw life!”, raise your hand, give up and die.
*sbntr lg ada yang comment di inbox “Ih ga nyangka lo yg seharusnya bla bla bla malah gampang menyerah sama hidup. Dasar munafik*
Pret.
Kita menulis apa yang kita pikirkan. Apa yang kita inginkan. Hingga puas. Hingga hilang pedih perih. Itu namanya terapi menulis… Tapi akan selalu ada orang-orang yang tidak suka dengan tulisan kita. Benci, terkadang. Menghujat. Merusak jalinan kebahagiaan yang kita rajut susah payah melalui terapi yang ada.
Pertanyaannya, kenapa sih? Apa untungnya? Apa ruginya kalau orang menulis suka-suka dia di Page dia sendiri? Mau munafik, mau bohong, mau takhayul, mau statement bodoh, mau tidak berguna. Memangnya kenapa? Dirugikan kah karena tulisan terapi orang tersebut?
Spreading hatred and causing pain via inbox or comment: I consider that as abusive thing in cyber world. Indeed.
Once upon the time, dulu ada penulis cilik yang baru memulai karirnya sebagai penulis. Usianya masih 11 tahun. Mencoba menulis novel islami. Ramai-ramai dunia membantai. Bahasanya sampah lah. Munafik lah. Tidak sesuai bayangan lah. Sedemikian terpukulnya anak itu hingga ia tak menulis lagi. Stop. Stop. Stop. Kreativitas orang jangan disandung dengan kebencian terhadap ketidaksesuaian akan harapanmu.
Be nice to everyone. Let everyone happy, let them write what ever they want sepanjang tidak melukai khalayak umum atau meneror orang. Gunakan lah waktumu yang berharga untuk mendukung, siapapun itu, maju. Bukannya menarik orang lain yang tengah melangkah kembali ke titik mula.
Semua penulis itu di satu titik adalah pemula. Amatir. Bodoh. Munafik. Sok. Menuliskan dunia ideal di kepalanya, yang tentu saja tidak harus sesuai dengan pengharapan semua orang. Apalagi sekedar nulis di Tumblr pribadi. Yaelaaaaaaah, ga ada apa-apanya banget.
Aku pribadi sudah muak dengan isi inbox yang aneh-aneh. Hujatan, kritik, nasehat dengan bawa-bawa ayat Quran, thank you so much. Tapi membaca yang seperti itu ketika hati tengah lelah setelah seharian banting tulang di kantor, setelah malam hari tak dapat tidur terengah perut buncit 9 bulan ini, kaki bengkak, diabetes, cita-cita terhambat, masalah rumah tangga, orangtua, kesehatan ibu, penghematan, kenapa pula harus menambah beban pikiran ke diri ini yang tak seberapa kuat dan rendah? Tak kasihan kah?
Iya, rendahan. Aku lah itu yang rendah, kotor, menjijikkan, munafik, kalau disingkat, “bangsat” sajalah kau panggil aku. Namanya juga cuma dari tanah, dari setitik mani. Berlumur dosa. Pelacur. Ga pantas berhijab. Pembohong. Apa lagi? Monggo lah ditambahkan sendiri, ga usah via inbox. Ludahi saja kalau bertemu di jalan, oke?
Di masa ini aku belajar banyak hal. Salah satunya adalah memendam rasa sakit. Bukan lagi di tahap belajar, kini aku ahlinya. Tapi kadang ingin sekali teriak, terbebas, keluar dari cangkang dan berlari kabur ke tempat dimana rasa sakit tidak ada lagi.
Jangan sedih kalau keluarga sendiri ga ngajak jalan-jalan. Mungkin krn memang kamu ga lucu dan ga asik. Mungkin juga karena memang mereka yang gak lucu dan ga asik.
Meanwhile, selalu ingat, bahwa keluarga itu tdk hanya mrk yang terikat darah maupun perkawinan dengan kita. Tapi keluarga ialah orang-orang yang selalu ada untuk menciptakan senyuman kala sedih.
