Dan kesunyian tidak lagi menjadi sesuatu yang menyedihkan ketika ia justru mendekatkanku pada-Mu.. *Adzimattinur Siregar
May 3rd, 2012
April 1st, 2012
Pertama kali gadis itu membayangkan pernikahan, adalah ketika ia berusia 15 tahun. Sejak ia menggandeng seorang pria untuk pertama kalinya seumur hidup. Ia ingin sekali seseorang berlutut dengan segunung mawar merah merekah, di bawah kerlipan lampu malam hari, lilin di sekeliling mereka, dan pria itu memintanya menikah. ‘Would you marry me?’ Seringkali terngiang di kepala gadis itu. Berharap akan ada seseorang yang memintanya, memohon, mengiba, seolah ia gadis terpenting & terindah di dunia ini.
Ia menunggu hal itu dari pacar pertamanya, yang sedikit demi sedikit mengikis harapan karena sebab yang sederhana: ras mereka berbeda. Lalu menunggu dari pacar kedua, yang dengan bodohnya ia khianati sendiri demi mendapatkan pacar ketiga, yang justru berbalik mengkhianatinya. Ketika ia sudah pusing dan muak dengan lingkaran setan hubungan berpacaran, strategi-strategi mendapatkan pria yang ia kuasai justru merusak segala romantisme yang telah bercokol di kepalanya sejak kecil. Sekali lagi, ia menyalahkan ribuan novel romantis yang terlalu dini dilahapnya.
Tapi apa memang sesulit itu? Sekali saja, ia ingin dilamar seperti yang sering ia idamkan sedari kecil. Perasaan diinginkan yang tak kunjung kembali. Perasaan berharga. Ah, relationship merusak romantisme. Kini gadis itu berdiri dengan rasa penasaran yang tak ada habisnya. Takkan pernah terjadi, karena kini ia hendak menikah. Ia sendiri yang melamar pria itu dengan selentingan-selentingan obrolan yang direalisasikan. Terjadi begitu saja.
Dimana romantisme yang kubaca sedari kecil? Seringkali gadis itu terpekur. Memaki dalam hati ketidakmampuannya untuk bersyukur. Romantis atau tidak, ia percaya pria inilah yang terbaik untuknya. She found a perfect man. That’s all that matters.
Isn’t it?
March 27th, 2012
March 24th, 2012
March 15th, 2012
Sounds more like,
“Perasaan yang anda cari sudah tidak ada lagi di pemuda malang ini. Silahkan cari di sosok lain.
March 15th, 2012
Mei 1998. Toko emas mereka dibakar. Bukan karena mereka berbuat salah atau dosa. Hanya karena kebetulan mata mereka sipit, entah salah siapa.
March 14th, 2012

A Chinese proverb says an invisible red thread connects those destined to meet, despite the time, the place, despite the circumstances. The thread can be tightened or tangled, but never be broken.
(Source: georgiabrokensmile, via notesaboveground)
March 14th, 2012
March 12th, 2012
March 12th, 2012